Biografi Rasulullah S.A.W dan Khutbah Terakhir beliau.
MUHAMMAD S.A.W
Nabi dan rasul yang terakhir yang bernama lengkap Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf ibn Qushai ibn Kilab ibn Murrah. Garis keturunan beliau menyambung kepada Isma’il., putra nabi Ibrahim a.s. Beliau lahir pada 12 Rabiul Al-Awwal tahun Gajah atau 20 April 570 M. Ayahnya, Abdullah ibn Abdul Muthathalib, berpulang ketika beliau masih dalam kandungan.
Muhammad disusui oleh Halimah Al-Sa’diyah. Ketika beliau 6 tahun, sang ibu meninggal dunia dalam perjalanan kembali dari Yatsrib untuk berziarah ke makam sang ayah. Muhammad diasuh oleh Abdul Muthathalib, kakek beliau dari garis ayah. Dua tahun kemudian sang kakek berpulang. Karena itu, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib ibn Abdul Muththalib. Meski menjadi yatim piatu dan hidup dalam kesederhanaan, Muhammad dikenal sebagai orang jujur, berbudi luhur, dan mempunyai kepribadian mulia, sehingga mendapat gelar Al-Amin
Pada usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan seorang janda kaya bernama Khadijah binti Khuwailid yang 15 tahun lebih tua darinya. Bagi beliau, Khadijah tidak sekedar istri, tapi pendamping dan pendukung utamanya dalam berdakwah. Terlebih saat menghadapi berbagai kesulitan sehubungan dengan tugasnya sebagai nabi dan rasul yang diembannya selama 15 tahun. Dari perkawinan ini lahir putra-putri : AL-Qashim, Abdullah, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Ketika beliau wafat, hanya fathimah saja yang masih hidup. Sedangkan dari istri yang lain yang berasal dari Mesir, Mariyah Al Qibtiyah, lahir Ibrahim yang juga meninggal saat balita.
Kaum Quraisy, warga Makkah, dengan keras menentang upaya nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu ilahi kepada umat manusia. Lebih-lebih setelah beliau melakukannya secara terbuka. Tidak sedikit pengikut beliau yang diteror, disiksa, bahkan dibunuh karenanya. Bahkan belum sembuh kesedihan beliau menghadapi semua itu, duka kembali menyelimuti, berupa kematian paman beliau, Abu Thalib ibn Abdul Muthalib, dan istri tercintanya, Khadijah, pada saat yang hampir bersamaan, yaitu pada 10 tahun setelah kenabian yang dikenal sebagai tahun duka cita. Ketika menghadapi ujian berat, beliau diperintahkan Allah SWT menjalani Isra’ dan Mi’raj dari Makkah ke Bait Al Maqdis di Palestina, kemudian naik ke langit ketujuh dan Sidrah al-Muntaha
Tak kuasa melihat penderitaan yang dialami para pengikutnya, Muhammad SAW menyuruh mereka ke Habasyah lalu ke Yatsrib. Peristiwa ini merupakan titik balik sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sementara beliau tetap bertahan di Makkah, Islam diiterima dengan baik di Yatsrib yang kemudian berubah menjadi Madinah Al-Munawwarah dan berkembang dengan pesat. Nabi menyusul para pengikutnya disana. Maka, berakhir fase pertama setelah tidak kurang dari 13 tahun lamanya berjuang untuk menegakkan agama Allah di Makkah.
Di Madinah, Nabi Muhammad SAW, mengatur siasat membentuk masyarakat islam, sekaligus berjuang untuk memelihara dan mempertahankannya. Meski relatif amandibangding dengan Makkah, tidak berarti beliau tidak menemui kesulitan. Rongrongan silih bergati datang dari berbagai pihak, seperti kaum yahudi, orang-orang munafik, dan kaum Quraisy beserta sekutu mereka. Berkat perlindungan Allah SWT, beliau berhasil mengatasi itu semua. Bahkan, Makkah dan semenanjung Arab akhirnyabersatu dalam pangkuan islam.
Dengan islam yang semakin kuat dan berkembang luas, Nabi Muhammad SAW merasa bahwa tugasnya hampir usai. Beliau menandainya dengan melaksanakan ibadah haji wada’ (perpisahan) pada 10 H/631 M. Dalam khutbahnya saat wukuf di Padang Arafah, beliau bersabda, “ Wahai manusia ! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu dengan kalian semua di tempat ini. Tahukah kalian semua,hari apakah ini? Inilah hari NAHR, hari kurban suci. Tahukah kalian bulan apakah ini ? Inilah bulan suci. Tahukah kalian temapat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku mempermaklumkan kepada kalian semua bahwa darah, nyawa, harta benda, dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan tuhan kalian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaiamana sucinya bulan ini,dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini kalian sampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir ditempat ini. Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah! Hari ini hendaklah dihapuskan segala bentuk riba. Barang siapa memegang amanah ditangannya, hendaklah ia bayarka kepada yang berhak. Dan sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama kubersihkan adalah riba yang dilakukan paman ku sendiri, Al-Abbas ibn Abdul Muththalib . Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam, pembunuhan, dan penuntutuan darah jahiliah. Yang pertama kuhapuskan adalah tuntutan darah atas Amir ibn Al-Harits. Wahai manusia! Hari ini setan telah berputus asa untuk dapat disembah di bumi kalian yang suci ini. Namun, ia bangga bila kalian dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi. Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum perempuan (istri kalian) ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri kalian. Bahwa mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa oranglain yang tidak kalian sukai ke rumah kalain, kecuali setelah mendapat izin dari kalian. Karena itu, sekiranya kaum perempuan itu melanggar ketentuan-ketentuan yang demikian, sesungguhnya Allah berarti telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Namun, bila mereka berhenti dan tunduk kepada kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah bawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, saksikanlah wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang bila kamu memegang erat-erat, nsicaya kamu tidak akan sesat selamanya, Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidup kalian. Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi masing-masing pribadi diantara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah! Janglah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang bila kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan, tentu kalian tidak akan tersesat, yakni Kitab Allah (Al-Qur’an). Wahai umat! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah! Wahai manusia! Sesungguhnya tuhan kalian itu tunggal, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam, dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian semua disisi Allah adalah orang yang paling takwa, tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan arab, kecuali dengan Taqwa! Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya tuhan, saksikanlah! Karena itu, barang siapa hadir diantara kalian ditempat ini berkewajiban untuk menyampaikan pesan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!
Dua bulan setelah melaksanakan ibadah haji tersebut. Nabi Muhammad SAW jatuh sakit. Namun beliau tetap melaksakan tugas seperti biasa. Beliau juga pergi ke Uhud dan mendoakan para syahid yang dimakamkan disana. Beliau terus melaksanakan shalat berjamaah hingga beliau menjadi begitu lemah dan tidak mampu bergerak. Beliau perintahkan Abu Bakar Al-Shiddiq untuk menjadi imam. Empat hari sebelum wafat, beliau merasa sehat dan mandi sebelum zhuhur. Setelah itu, beliau pergi ke masjid dipapah Al-Abbas ibn Abdul Muththalib dan Ali ibn Abu Thalib. Ketika itu Abu Bakar Al-Shiddiq sedang menjadi imam seperti biasanya. Ketika merasa beliau datang, ia bergerak untuk memberi tempat. Namun, beliau menahannya untuk tetap berada ditempatnya. Beliau kemudian duduk didekatnya.
Pada Senin pagi, 12 Rabiul Al-Awwal 11H/8 Juni 632M, beliau merasa agak baik. Namun, sore harinya, kesehatan beliau memburuk kembali. Pada petang harinya, beliau wafat pada usia 63 tahun. Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya. Fadhl ibn Abbas, Ali ibn Abu Thalib, dan Usamah ibn Zaid yang memandikan jenazah beliau. Nabi Muhammad SAW beliau dimakamkan di dalam rumah A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq (kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi), tempat beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sumber : Ahmad Rofi Usmani, Ensiklopedia Tokoh Muslim , mizan: Bandung
Komentar
Posting Komentar